Rangkaian kasus ini membuat publik punya alasan kuat untuk berkata: reformasi kelembagaan Bea Cukai belum bisa disebut selesai. Sebab reformasi yang sesungguhnya bukan hanya soal mengganti sistem digital atau mengubah slogan pelayanan. Reformasi yang sesungguhnya harus menyentuh jantung kekuasaan birokrasi: siapa yang promosi, siapa yang mutasi, siapa yang dipercaya, dan atas dasar apa jabatan-jabatan strategis itu dibagi.
Di sinilah dominasi alumni tertentu menjadi problem serius. Bila satu almamater terus muncul sebagai kelompok paling dominan pada level eselon II, administrator, pengawas, bahkan posisi-posisi teknis fungsional strategis, maka publik berhak bertanya: apakah ini benar-benar hasil kompetisi terbuka? Atau justru sejak awal ada desain kultur organisasi yang memang menempatkan alumni D3 STAN sebagai inti, sementara jalur lain hanya pelengkap?Kalau alasannya adalah kompetensi, maka negara tinggal membukanya.
Tunjukkan kepada publik data komposisi jabatan berdasarkan jalur rekrutmen. Tunjukkan rata-rata percepatan karier tiap kelompok. Tunjukkan nilai assessment center, rekam jejak kinerja, integritas, pendidikan lanjutan, pengalaman lapangan, dan parameter objektif lain yang membuat satu kelompok terus unggul. Bila data itu dibuka dan memang menunjukkan keunggulan objektif alumni D3 STAN, maka publik akan paham.
Tetapi bila data itu tidak pernah dibuka, sementara promosi dan mutasi terus mengesankan bahwa “yang utama tetap alumni raja”, maka publik juga berhak menduga bahwa meritokrasi belum sepenuhnya hidup. Yang hidup justru bisa jadi semacam aristokrasi birokrasi modern: tidak tertulis, tetapi nyata dirasakan.
Bagi kami yang melihat dari luar dengan mata telanjang, kesan itu sangat kuat. Setiap kali terjadi promosi dan mutasi, terutama yang baru-baru ini menjadi perhatian publik, pertanyaannya selalu kembali ke titik yang sama: mengapa jalur yang itu lagi yang tampak dominan? Apakah pegawai dari jalur lain memang kurang cakap? Atau jangan-jangan mereka sejak awal memang tidak diberi ruang yang sama untuk naik?
Simak berita dan artikel lainnya melalui saluran kami di Channel WhatsApp

Tinggalkan Balasan